Bandung merupakan sebuah kota yang melahirkan banyak musisi yang sudah sangat dikenal, salah satunya Melly Goeslow, The Queen of Soundtrack. Lagu-lagu ciptaan Teh Melly ini sangat mudah dihafal karena easy listening. Selain itu, makna lagu yang dia buat juga selalu dalam dengan perpaduan kata yang membentuk kalimat kuat. Dan mampu merasuki jiwa yang mendengarkan lewat paduan kalimat dalam satu baris. Maka tak heran jika industri rumahan gitar juga sangat pesat berkembangnya. Bahkan tahun ini, gitar Bandung ini sudah mencapai pasar luar negeri.
Perkembangan ini ternyata sudah terlihat sejak tahun 2008. Gitar-gitar hasil buah tangan dari Bandung sudah bisa mendunia kala itu. Namun terkendala oleh modal yang cenderung sedikit. Untuk diketahui, pembeli ini kebanyakan dari Inggris, Korea, Jepang, dan sejumlah Negara lainnya di dunia. Sayangnya, saat banyak orang luar negeri yang membeli produk Indonesia, produk ini malah kurang diminati oleh orang lokal. Ini dibuktikan dari permintaan atas gitar ini yang sangat kecil. Tentu saja, hal ini bisa menjadi dasar terbukanya khasanah tentang nasionalisme.
Salah satu industri rumahan yang sudah berhasil adalah milik pengrajin dari Sariwangi Pangropong, Bandung Barat. Gitar yang dia buat dari bahan lokal telah mampu merambah pasar luar negeri. Omset-nya pun sangat besar karena 1 gitar hasil karya mereka dihargai dari 8 juta rupiah hingga puluhan juta rupiah. Pengrajin di Pangropong ini sudah menguasai pasar Asia hingga Eropa. Hal ini tentu membuktikan bahwa kualitas tangan Indonesia mendapatkan pengakuan dari luar negeri.
Beberapa gitar yang dijual tersebut juga ada yang menggunakan bahan campuran. Bahan ini merupakan gabungan dari bahan lokal dan impor. Untuk bahan lokal, ada rose wood, bahan mahogany dan makasar ebony. Sementara bahan impor yang dipakai diambil dari bagian Afrika seperti african black wood dan snake wood serta zebra wood. Gitar ini dibuat dan dilabeli dengan berbagai merk yang berbeda-beda. Dan harganya dimulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, seperti dikutip dari bisnis-jabar.com. (BCC News)
Perkembangan ini ternyata sudah terlihat sejak tahun 2008. Gitar-gitar hasil buah tangan dari Bandung sudah bisa mendunia kala itu. Namun terkendala oleh modal yang cenderung sedikit. Untuk diketahui, pembeli ini kebanyakan dari Inggris, Korea, Jepang, dan sejumlah Negara lainnya di dunia. Sayangnya, saat banyak orang luar negeri yang membeli produk Indonesia, produk ini malah kurang diminati oleh orang lokal. Ini dibuktikan dari permintaan atas gitar ini yang sangat kecil. Tentu saja, hal ini bisa menjadi dasar terbukanya khasanah tentang nasionalisme.
Salah satu industri rumahan yang sudah berhasil adalah milik pengrajin dari Sariwangi Pangropong, Bandung Barat. Gitar yang dia buat dari bahan lokal telah mampu merambah pasar luar negeri. Omset-nya pun sangat besar karena 1 gitar hasil karya mereka dihargai dari 8 juta rupiah hingga puluhan juta rupiah. Pengrajin di Pangropong ini sudah menguasai pasar Asia hingga Eropa. Hal ini tentu membuktikan bahwa kualitas tangan Indonesia mendapatkan pengakuan dari luar negeri.
Beberapa gitar yang dijual tersebut juga ada yang menggunakan bahan campuran. Bahan ini merupakan gabungan dari bahan lokal dan impor. Untuk bahan lokal, ada rose wood, bahan mahogany dan makasar ebony. Sementara bahan impor yang dipakai diambil dari bagian Afrika seperti african black wood dan snake wood serta zebra wood. Gitar ini dibuat dan dilabeli dengan berbagai merk yang berbeda-beda. Dan harganya dimulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, seperti dikutip dari bisnis-jabar.com. (BCC News)



0 comments: