Masih seputar kabar tentang bencana alam yang melanda kabupaten Bandung. Setelah diguyur hujan hingga mengakibatkan banjir dan tanah longsor, kini korban semakin bertambah hingga menenggelamkan 400 rumah. Seperti diketahui, banjir yang melanda Bandung sebelumnya telah menyebabkan kemacetan hingga banyak mobil rusak akibat hujan es dan pohon tumbang. Tak hanya itu, tanah longsor yang juga terjadi di beberapa desa di kabupaten Bandung membuat banyak warga menderita kerugian akibat kehilangan harta bendanya.
Banjir bandang yang terjadi selasa 18 Maret 2014 ini diklaim sebagai banjir terbesar dan terberat selama kurun waktu 25 tahun terakhir. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa naas ini. Banjir terjadi di daerah Sungai Citepus, kabarnya hujan yang mengguyur Bandung sejak selasa malam telah membuat 12 rumah tak hanya terendam, melainkan rubuh. Ketua RT, RW, dan para warga pun sigap dalam menangani bencana ini. Hal pertama yang dilakukan oleh kepala dusun, RW, dan RT setempat adalah mengevakuasi warga mereka ke tempat yang lebih aman.
Tentu dalam hal ini harta benda mereka yang berada di rumah terendam banjir, tak pelak akan banyak kerugian yang diderita oleh masyarakat, khususnya para korban bencana. Pemerintah Bandung juga ikut membantu warga dengan menyediakan klinik sebagai tempat berobat warga yang sedang mengungsi.
Sayangnya, selama ini yang menjadi bahan pembicaraan adalah tindakan sigap terhadap bencana bukan kesadaran untuk menanggulangi terjadinya bencana. Analogi yang sama untuk penyakit, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Sejatinya, banjir juga harus bisa dicegah. Sehingga tak hanya kesigapannya saja yang akan dibahas. Keberhasilan untuk mencegah banjir pun akan menjadi prestasi baru untuk seluruh warga.
Asep Saeful Ghufron, camat Cicendo yang juga ikut mengevakuasi warga mengatakan bahwa tragedi banjir bandang ini menjadi buah karya nyata dari ulah masyarakat yang memang kurang peduli pada lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan di area bantaran. Padahal, area tersebut harusnya bersih dan boleh didirikan bangunan pada jarak lebih dari 4 meter. Kurangnya kepedulian ini juga ditunjukkan dengan pembuangan kulkas, kasur, bahkan lemari ke sungai yang semakin membuat volume air semakin tidak dapat dibendung.
Belum bisa dipastikan berapa kerugian yang diderita akibat peristiwa ini. Namun, perkiraan sementara, kerugian bisa mencapai seratus juta rupiah. (BCC News - jabarnews)



0 comments: