Masih belum jelas apakah
merebaknya flu burung di provinsi Jawa Barat ini hanya isu atau fakta. Namun,
data membuktikan bahwa ada 28 kasus kematian pada unggas yang disebabkan oleh
virus H5N1. Dalam 28 kasus yang dicatat pada tanggal 11 Februari 2014 tersebut,
14 berasal dari Sukabumi, 5 dari Kabupaten Bandung Barat, 3 dari Indramayu, 2
dari kota Bandung, dan sisanya tersebar di Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan
Banjar. Penyebaran ini membuat nilai angka kematian unggas per tanggal tersebut
adalah sebesar 14.233 ekor, yang sebagian besarnya adalah ternak ayam dan puyuh
yaitu sebesar 12.376 ekor atau sekitar 87%.
Disusul kemudian laporan dari
Subang yang mengungkapkan bahwa ada 362 unggas yang positif H5N1 per tanggal 16
Februari 2014. Hal ini tentu menambah daftar korban kematian unggas oleh flu
burung pada data sebelumnya. Belum lagi, kematian unggas lainnya yang belum
tercatat atau tidak diketahui karena tidak dilaporkan. Virus H5N1 adalah
sejenis virus yang menularkan influenza pada hewan-hewan ternak seperti ayam,
enthog, bebek, dan lain sebagainya. Virus ini disinyalir dapat menular ke tubuh
manusia jika ada kontak langsung antara manusia dengan hewan (unggas) tersebut.
Sedangkan penularan antara hewan dengan hewan terjadi dengan sangat mudah
sehingga pertumbuhannya seperti merebaknya wabah. Apalagi untuk hewan-hewan
yang senang berkoloni dan memang hidup dalam satu kandang.
Salah satu pihak yang sangat
dirugikan dengan hadirnya flu burung adalah peternak ayam. Pertama, dia akan
menderita kerugian karena barang dagangannya banyak yang mati. Kedua, omsetnya
akan turun karena banyak orang yang akan mulai menghindari ayam. Terlepas hal tersebut
fakta atau masih isu, masyarakat tentu akan menghindari sementara waktu hingga
pemerintah menyatakan virus ini telah menghilang dan dijamin keamanannya.
Ketiga, dia bisa jadi menjadi orang pertama yang akan ikut terkontaminasi
karena mengurusi ternaknya yang sudah terinfeksi lebih dulu.
Tak hanya peternak ayam, mereka
yang menjual daging ayam mentah di pasar juga akan menderita kerugian yang
tidak sedikit. Pasalnya, barang dagangannya tidak bisa berputar dengan baik
karena sepi pembeli. Mau tidak mau, hal ini tentu akan mempengaruhi perputaran
harga di pasar. Permintaan barang dagangan lain misal daging, ikan dan atau
tempe akan naik sebagai pengganti kebutuhan pembeli akan kebutuhan lauk. Dengan
permintaan yang tinggi dan barang persediaan yang sama, harga barang bisa jadi
dinaikkan. Akibatnya, pengaruh satu virus ini ternyata membuat ekonomi di pasar
menjadi tidak seimbang dan banyak sekali yang dirugikan. (BCC news)



0 comments: