Bandung di bulan Maret 2014 masih menyimpan hujan, maka kami pun memutuskan untuk menikmati dingin malam kota Bandung dengan bersantai di sebuah resto. Setelah beberapa saat berputar-putar mencari tempat yang memiliki konsep berbeda dari yang pernah kami datangi, akhirnya kami dapati sebuah restoran di Jl. Sumatra no. 19.
Tampak dari jalan sebuah bangunan tua peninggalan Belanda yang tampaknya masih dijaga keasliannya. Ada beberapa kendaraan yang terparkir disitu, ramai.... tapi tidak cukup ramai, justru memang itu yang kami cari. Ramai adalah parameter bahwa suatu tempat kuliner layak kami coba, “tidak terlalu ramai” mungkin karena waktu saat kami datang bukan weekend, ini bagus! berarti saya bisa tenang bersantai dengan istri dan seorang anak. Tentunya juga tidak terlalu banyak pengunjung berarti makanan akan cepat tersaji ke meja kami, ini yang paling utama.
Tertulis nama Indischetafel yang ditulis di dinding atas bangunan tersebut, dari namanya berikut dengan pemilihan font klasik khas bangunan-bangunan peninggalan Belanda tempo doeloe. Sounds really good! membuat kami semakin penasaran. Apakah resto ini benar-benar berkonsep era-kolonial?
Begitu kami memasuki ruangan, dugaan saya tentang konsep tidak meleset sama sekali. Bahkan sedikit lebih dari ekspektasi kami. Beberapa waitress dengan seragam kebaya khas perempuan lokal tempo doeloe mempersilahkan kami memilih tempat dengan ramah. Kami pun memilih sebuah sofa di pojokan ruangan, sehingga anak kami yang masih bayi bisa nyaman dibaringkan.
Sambil memilih menu makanan, sayup-sayup terdengar beberapa song playlist yang saya imajinasikan itu diputar dari sebuah piringan hitam. Jika anda menyukai musik klasik era 20-50’an maka resto ini akan memanjakan telinga anda. Lagu-lagu dari angkatan Ethel Waters sampai Paul Whiteman menyatu serasi dengan pemilihan dekorasi yang sangat vintage, pintu dan daun jendela tinggi, meja, lampu gantung, ornamen, dan sebuah stage dengan gordyn yang tinggi, saya benar-benar terbawa ke suasana tempo doeloe. Jika boleh berlebihan, maka atmosfer ini membuat saya seolah-olah menjadi seorang Tuan Bertus Coops, walikota Bandung yang pertama yang memang asli Belanda. Maka dari sisi konsep interior saya beri bintang 4 untuk skala maksimal 5.
Dengan suasana yang sudah cukup “sangat Belanda” rasanya saya tidak perlu untuk mencoba menu utama khas londo, saat itu yang penting kenyang, maklum lapar! Saya memilih menu iga bakar pedas sementara istri saya memesan bistik lidah saus keju. Untuk makanan pembuka saya memilih cream soup dan 1 lagi macaroni schotel. Sedangkan minumnya saya pesan teh poci hangat, beda dengan istri saya yang memilih juice strawberry. Ah itu memang minuman favorit dia, tidak peduli hujan atau panas selalu itu yang dia pesan!
Bagaimana dengan harga? Untuk minuman bisa dikategorikan murah, sementara untuk makanan cukup bervariasi. Yang pasti banyak resto/cafe lain yang punya bandrol lebih tinggi dari harga makanan sejenis yang ada disini. Dari sisi harga kami beri bintang 3 untuk skala maksimal 5. (standar penilaian untuk harga: 1 yang termahal, 5 yang termurah).
Sebagus apapun konsep sebuah resto tidak akan ada artinya jika rasa makanan dan minuman tidak sesuai dengan standar kelezatan yang kami punyai.Maka penilaian untuk makanan segera dimulai setelah saya mencobanya. Oh ya, seluruh pesanan dari appetizer, menu utama sampai minuman sudah siap tersaji di meja kami kurang lebih 10 menit..., it’s not bad!.
Makanan pembuka cream soup rasanya cukup, walaupun saya tidak menemukan “hal pembeda” dengan resto-resto yang lain. Sedangkan penilaian istri saya mengenai macaroni schotelsepertinya sangat memuaskan. Kejunya sangat terasa dan dia merekomendasikan menu ini bagi siapa saja yang mengunjungi Indischetafel. Masuk ke menu utama justru sebaliknya, istri saya menilai bistik lidah saus keju disini memang sedikit lebih baik daripada resto yang kami kunjungi beberapa hari sebelumnya, tapi ia tidak menemukan faktor “WOW” untuk menu ini. Sementara apa yang saya rasakan sungguh luar biasa (ini yang membuat review resto ini dijadikan edisi perdana untuk review kuliner di situs ini).
Seperti halnya standar nasi putih di kelas resto/cafe yang tidak memadai untuk ukuran orang lapar, maka saya pun memesan nasi tambahan untuk mengimbangi iga bakar yang saya anggap yang terbaik di kota ini! Terus terang saya kebingungan mencari kata untuk menilai masakan ini, pastinya empuk, gurih dan bumbu pedasnya benar-benar membuat saya berkeringat di saat udara Bandung sedang dingin-dinginnya. Ucapan dalam hati yang bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi kesempatan saya mencicipi makanan selezat ini, mungkin bisa mewakili penilaian saya terhadap menu ini.
Dan terakhir untuk minuman, untuk teh poci hangat sebetulnya biasa saja, yang membuat pas adalah karena suasana malam dan hujan di kota Bandung, serta sebagai penutup dari menu utama yang membuat saya harus memberikan bintang 5 (dari skala maksimal 5) khusus untuk menu utama yang saya pesan. Rasanya saya tidak perlu meminta penilaian istri saya untuk juice strawberry-nya, karena dari raut mukanya saya tahu dia cukup menikmati meskipun tidak terlontar kalimat “enak banget” seperti yang biasa saya dengar apabila ia menemukan sesuatu yang luar biasa.
Tidak ada tangisan dari bayi yang kami bawa selama orang tuanya asyik makan disini, mungkin ini juga bisa dijadikan tolak ukur apabila ia pun nyaman dengan suasana di resto ini. Kami melangkah pulang dengan perasaan puas, sisa keringat masih sesekali menetes dari sela-sela rambut, ini pasti efek dari bumbu pedas iga bakar. Dan di perjalanan pulang, tidak disadari saya bersenandung kecil sebuah komposisi Whispering dari Paul Whiteman yang tadi terdengar dari playlist Indischetafel ... (BCC Kuliner / Angga-Indri)
Tampak dari jalan sebuah bangunan tua peninggalan Belanda yang tampaknya masih dijaga keasliannya. Ada beberapa kendaraan yang terparkir disitu, ramai.... tapi tidak cukup ramai, justru memang itu yang kami cari. Ramai adalah parameter bahwa suatu tempat kuliner layak kami coba, “tidak terlalu ramai” mungkin karena waktu saat kami datang bukan weekend, ini bagus! berarti saya bisa tenang bersantai dengan istri dan seorang anak. Tentunya juga tidak terlalu banyak pengunjung berarti makanan akan cepat tersaji ke meja kami, ini yang paling utama.
Tertulis nama Indischetafel yang ditulis di dinding atas bangunan tersebut, dari namanya berikut dengan pemilihan font klasik khas bangunan-bangunan peninggalan Belanda tempo doeloe. Sounds really good! membuat kami semakin penasaran. Apakah resto ini benar-benar berkonsep era-kolonial?
Begitu kami memasuki ruangan, dugaan saya tentang konsep tidak meleset sama sekali. Bahkan sedikit lebih dari ekspektasi kami. Beberapa waitress dengan seragam kebaya khas perempuan lokal tempo doeloe mempersilahkan kami memilih tempat dengan ramah. Kami pun memilih sebuah sofa di pojokan ruangan, sehingga anak kami yang masih bayi bisa nyaman dibaringkan.
Sambil memilih menu makanan, sayup-sayup terdengar beberapa song playlist yang saya imajinasikan itu diputar dari sebuah piringan hitam. Jika anda menyukai musik klasik era 20-50’an maka resto ini akan memanjakan telinga anda. Lagu-lagu dari angkatan Ethel Waters sampai Paul Whiteman menyatu serasi dengan pemilihan dekorasi yang sangat vintage, pintu dan daun jendela tinggi, meja, lampu gantung, ornamen, dan sebuah stage dengan gordyn yang tinggi, saya benar-benar terbawa ke suasana tempo doeloe. Jika boleh berlebihan, maka atmosfer ini membuat saya seolah-olah menjadi seorang Tuan Bertus Coops, walikota Bandung yang pertama yang memang asli Belanda. Maka dari sisi konsep interior saya beri bintang 4 untuk skala maksimal 5.
Dengan suasana yang sudah cukup “sangat Belanda” rasanya saya tidak perlu untuk mencoba menu utama khas londo, saat itu yang penting kenyang, maklum lapar! Saya memilih menu iga bakar pedas sementara istri saya memesan bistik lidah saus keju. Untuk makanan pembuka saya memilih cream soup dan 1 lagi macaroni schotel. Sedangkan minumnya saya pesan teh poci hangat, beda dengan istri saya yang memilih juice strawberry. Ah itu memang minuman favorit dia, tidak peduli hujan atau panas selalu itu yang dia pesan!
Bagaimana dengan harga? Untuk minuman bisa dikategorikan murah, sementara untuk makanan cukup bervariasi. Yang pasti banyak resto/cafe lain yang punya bandrol lebih tinggi dari harga makanan sejenis yang ada disini. Dari sisi harga kami beri bintang 3 untuk skala maksimal 5. (standar penilaian untuk harga: 1 yang termahal, 5 yang termurah).
Sebagus apapun konsep sebuah resto tidak akan ada artinya jika rasa makanan dan minuman tidak sesuai dengan standar kelezatan yang kami punyai.Maka penilaian untuk makanan segera dimulai setelah saya mencobanya. Oh ya, seluruh pesanan dari appetizer, menu utama sampai minuman sudah siap tersaji di meja kami kurang lebih 10 menit..., it’s not bad!.
Makanan pembuka cream soup rasanya cukup, walaupun saya tidak menemukan “hal pembeda” dengan resto-resto yang lain. Sedangkan penilaian istri saya mengenai macaroni schotelsepertinya sangat memuaskan. Kejunya sangat terasa dan dia merekomendasikan menu ini bagi siapa saja yang mengunjungi Indischetafel. Masuk ke menu utama justru sebaliknya, istri saya menilai bistik lidah saus keju disini memang sedikit lebih baik daripada resto yang kami kunjungi beberapa hari sebelumnya, tapi ia tidak menemukan faktor “WOW” untuk menu ini. Sementara apa yang saya rasakan sungguh luar biasa (ini yang membuat review resto ini dijadikan edisi perdana untuk review kuliner di situs ini).
Seperti halnya standar nasi putih di kelas resto/cafe yang tidak memadai untuk ukuran orang lapar, maka saya pun memesan nasi tambahan untuk mengimbangi iga bakar yang saya anggap yang terbaik di kota ini! Terus terang saya kebingungan mencari kata untuk menilai masakan ini, pastinya empuk, gurih dan bumbu pedasnya benar-benar membuat saya berkeringat di saat udara Bandung sedang dingin-dinginnya. Ucapan dalam hati yang bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi kesempatan saya mencicipi makanan selezat ini, mungkin bisa mewakili penilaian saya terhadap menu ini.
Dan terakhir untuk minuman, untuk teh poci hangat sebetulnya biasa saja, yang membuat pas adalah karena suasana malam dan hujan di kota Bandung, serta sebagai penutup dari menu utama yang membuat saya harus memberikan bintang 5 (dari skala maksimal 5) khusus untuk menu utama yang saya pesan. Rasanya saya tidak perlu meminta penilaian istri saya untuk juice strawberry-nya, karena dari raut mukanya saya tahu dia cukup menikmati meskipun tidak terlontar kalimat “enak banget” seperti yang biasa saya dengar apabila ia menemukan sesuatu yang luar biasa.
Tidak ada tangisan dari bayi yang kami bawa selama orang tuanya asyik makan disini, mungkin ini juga bisa dijadikan tolak ukur apabila ia pun nyaman dengan suasana di resto ini. Kami melangkah pulang dengan perasaan puas, sisa keringat masih sesekali menetes dari sela-sela rambut, ini pasti efek dari bumbu pedas iga bakar. Dan di perjalanan pulang, tidak disadari saya bersenandung kecil sebuah komposisi Whispering dari Paul Whiteman yang tadi terdengar dari playlist Indischetafel ... (BCC Kuliner / Angga-Indri)



0 comments: