Sampah di Bandung semakin hari
semakin banyak saja. Hal ini merupakan dampak negatif yang ditimbulkan dari
kemajuan kota yang dekat dengan ibu kota Negara Indonesia ini. Sebagai kota
yang mempunyai akses termudah dengan ibu kota, Bandung memiliki kawasan wisata
yang banyak diminati para wisatawan. Tak heran, jika penumpukan sampah juga
merupakan imbas dari peningkatan sektor pariwisata, termasuk sektor lain yang
juga semakin berkembang.
Meskipun sejumlah usaha untuk
menanggulangi sampah sudah dilakukan sedikit demi sedikit, hasil penanganan
sampah di Bandung ini belum menemui titik terbaik. Usaha-usaha penanggulangan
sampah ini bisa dilihat dalam bentuk kerja sama antara masyarakat yang aktif
dan pemerintah yang terus mencarikan solusi dengan mengeluarkan
kebijakan-kebijakan baru mengenai sampah. Kerukunan yang solutif ini tentu akan
berdampak baik bagi masyarakat Bandung pada umumnya. Sedikitnya ada dua hal
yang telah dilakukan sebagai usaha untuk menanggulangi sampah di Bandung;
Masyarakat
dengan Alat Biodigister
Beberapa anggota
masyarakat yang tergabung dalam komunitas My darling (Masyarakat Sadar
Lingkungan) dibantu warga sekitar, UNPAD, dan yayasan-yayasan menggunakan alat
ini untuk mengubah sampah organik yang telah menumpuk di Bandung menjadi gas
dan pupuk cair sejak tahun 2007. Dengan alat ini, sampah-sampah yang tidak
terbawa dinas kebersihan bisa menjadi materi yang bisa dimanfaatkan kembali,
salah satunya adalah digunakan untuk bahan bakar kompor gas.
Oleh
pemerintah kota dengan PLTSa
Pemerintah kota
Bandung sejak 8 tahun lalu memiliki sebuah gagasan penanggulangan sampah dengan
membuat PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Meski sampai detik ini PLTSa
belum dibuat dan malah masih rancu apakah akan dibuat atau tidak, hal ini sudah
bisa dikatakan sebagai salah satu usaha positif untuk menanggulangi penumpukan
sampah di daerah yang sejuk ini. Kendala financial dan sosial disinyalir
menjadi penyebab tersendatnya pembuatan PLTSa. Selain itu, penelitian yang
dilakukan oleh Unpad menyebutkan bahwa lebih dari 50 % warga yang ada di
Gedebage (lokasi PLTSa dibangun) menyatakan ketidaksetujuannya akan pembangunan
proyek tersebut.
Lewat kepedulian ini juga, warga
Bandung dan pemerintah menunjukkan bahwa masalah sampah adalah masalah semuanya
dan sudah sepatutnyalah semua pihak ikut mencari solusi dan menjadi agen solutif
dalam penanggulangan sampah. (BCC news)



0 comments: